akibat malas belajar

Mengapa Anak Malas Belajar?
Nilna Iqbal
Mengapa anak-anak lebih suka bermain ketimbang belajar? Mengapa sebagian anak
senang tinggal di rumah, sebagian lagi tidak betah? Ada beberapa penyebabnya.
Pertama, kontruksi bangunan rumah. Hal ini memang jarang terperhatikan oleh

banyak sekali keluarga. Mereka masih menganggap rumah sebagai “benda mati”.
Padahal, rumah pada hakekatnya bukan hanya tempat tinggal belaka, melainkan juga
tempat terbinanya kasih-sayang diantara keluarga, tempat dibinanya manusia-manusia
sempurna (insanul kamil), tempat mekarnya taruna-taruna bangsa.

Oleh sebab itu, sesuai fungsinya, orang tua harus mampu menjamin seluruh penghuni
agar betah di rumah, terutama anak-anak. Tanpa itu, terpadunya kasih-sayang dan
kedamaian bisa jadi hanya tinggal impian.

Itulah sebabnya, konstruksi-desain-tata-ruang dalam suatu rumah perlu diperhatikan
dengan seksama. Rancangan rumah secara tak langsung mempengaruhi jiwa
penghuninya. Bahkan, kalau memungkinkan, sangat baik bila disediakan pula ruang
belajar khusus, yang ditata sedemikian rupa hingga si anak bisa betah bertahan belajar di
rumahnya sendiri.

Ruang belajar itu tak perlu mewah, dalam arti luas serta diisi perabot yang wah. Cukup
sederhana saja. Secara psikologis ini akan membuat anak terbiasa dengan kesederhanaan
hidup. Letaknya tentu tidak boleh serampangan. Sedapat mungkin hindarilah kondisi fisik
yang gelap, pengap, dan tidak menyegarkan, serta … jangan terlampau dekat dengan
kamar atau pun tempat tidur.

Ruang belajar ini dapat bermacam-macam ragamnya, tergantung kondisi keluarga yang
bersangkutan. Bagi yang mampu, barangkali baik jika disediakan kamar khusus tempat
belajar. Di tempat ini anak diberi keleluasaan untuk berkreasi dan mengembangkan
potensi diri. Berilah mereka hak otonomi penuh atas ruangan itu, tak seorang pun dapat
turut campur mengaturnya. Orang tua hanya mengarahkan, membimbing, serta
mengontrol saja. Hal ini akan mendewasakan diri sang anak, karena sejak kecil ia
terbiasa bertanggung jawab serta memikul akibat-akibatnya.

Di samping itu bisa juga dibuat format ruangan besar, dengan masing-masing anak
memiliki otonomi atas meja belajarnya sendiri. Barangkali seperti suasana kantorlah,
cuma harus dijaga juga ketentraman belajarnya. Selain itu, bisa juga meja belajar dipakai
bersama, termasuk kedua orang tua. Di sini peran ayah ataupun ibu sungguh sangat
mengena, langsung menembus hati anak-anaknya.

Kedua, tata perangkat lunaknya, yakni perangkat-perangkat pengisi yang
memperlancar proses belajar. Umpamanya saja pengaturan cahaya lampu atau sinar
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s